Langsung ke konten utama

Fenomena Subsidi oleh Perusahaan Teknologi di AS dan Indonesia


Perusahaan Teknologi di Indonesia dengan Status Unicorn

Bagi penduduk Indonesia yang tinggal di kota-kota besar seperti di Jabodetabek, aktivitas kesehariannya tidak dapat dilepaskan dari perusahaan teknologi. Perusahaan tersebut menawarkan jasa yang memudahkan kehidupan sehari-hari mulai dari jasa transportasi, jual beli barang, membeli makanan,  membeli tiket, metode pembayaran hingga jasa pijat. Perusahaan teknologi tersebut sebagian besar terdiri dari perusahaan start up atau perusahaan yang beru dirintis dengan penggunaan teknologi, web, dan internet seperti GOJEK, Grab, Bukalapak, Shopee hingga Kumparan. Sebagian dari perusahaan tersebut menyandang predikan unicorn atau perusahaan yang memiliki nilai lebih dari satu miliar Dollars Amerika Serikat.
Terlepas dari peran dan status modal perusahaan teknologi, ada satu perilaku ekonomi mereka yang mungkin membuat kita sebagai konsumennya bertanya-tanya mengenai perusahaan tersebut beroperasi. Perilaku ekonomi berupa sebagian dari perusahaan teknologi tersebut terkesan jor-joran memberikan diskon, promo, kupon bonus hingga cashback dengan nilai yang cukup besar bila dikalikan dengan konsumennya.
Mengenai fenomena perilaku ekonomi perusahaan teknologi tersebut, majalah The Economist dalam edisi 20 sampai 26 April 2019 mengangkat isu mengenai permasalahan perusahaan teknologi yang diantaranya menyandang predikat Unicorn di Amerika Serikat. Laporan The Economist tahun lalu menunjukan kerugian yang dialami oleh perusahaan teknologi di Amerika Serikat sebesar 14 Triliun Dollars Amerika Serikat. Tulisan ini berusaha memperlihatkan permasahan yang dialami oleh perusahaan teknologi di Amerika Serikat dan mengkontekstualisasikan permasalahan tersebut di Indonesia.

Fenomena kemunculan Blitzcaling dan tantangan pasar perusahaan teknologi di Amerika Serikat
            Permasalahan yang diangkat oleh The Economist dari perusahaan teknologi di Amerika Serikat  ada pada kerugian yang dialami oleh perusahaan dan margin operasional perusahaan yang masih negatif. 
               Secara kumulatif dari pendiriannya sampai 2018, perusahaan teknologi di Amerika Serikat mengalami kerugian mencapai 47 Triliun Dollar Amerika Serikat. Kerugian paling besar dialami pada tahun 2018 dengan total 14 Triliun Dollar Amerika Serikat. Salah satu perusahaan penyumbang kerugian terbesar adalah Uber dengan kerugian sebesar 4 Triliun Dollar Amerika Serikat pada tahun 2018. Berikut merupakan grafik kerugian yang dialami perusahaan di Amerika Serikat dilansir The Economist.
 Permasalahan selanjutnya dari perusahaan teknologi di Amerika Serikat adalah meningkatnya margin negatif dari operasional perusahaan. Peningkatan margin negatif dari operasional perusahaan berlawanan dengan peningkatan penjualan yang terus naik. Bahkan, penjualan dipertengahan tahun 2017 mengalami peningkatan dua kali lipat dari penjualan sebelumnya. Data ini menunjukkan bahwa pada dasarnya skala ekonomi dari perusahaan teknologi naik sehingga akan meningkatkan margin secara keseluruhan. Namun, perusahaan akan menghadapi tingginya biaya operasional. Berikut merupakan grafik penerimaan dan margin operasional perusahaan teknologi di Amerika Serikat. 
           Dalam opininya, majalah The Economist menuliskan penyebab permasalahan kerugian dan tingginya margin operasional perusahaan teknologi di AS karena model bisnis perusahaan dengan tingginya diskon yang diberikan perusahaan untuk konsumennya. Model bisnis tersebut disebut sebagai blitzscaling atau justifikasi bisnis perusahaan yang memenangkan persaingan suatu pasar akan mendapatkan keseluruhan pasar (winner takes all market).
            Blitzscaling menurut Reid Hoffman, penulis buku penulis buku Blitzscaling : The Lightning Fast Path to Building Massively Valuable Companies berupa usaha untuk membangun perusahaan dengan pertumbuhan cepat melalui peningkatan skala perusahaan. Blitzscaling dapat dilakukan diantara melalui tiga dimensi, yaitu menumbuhkan pendapatan, menumbuhkan basis pelanggan dan menumbuhkan organisasasi perusahaan. Kunci dari blitzscaling adalah pertumbuhan cepat dari perusahaan dengan tujuan menjadi pemenang dari persaingan di seluruh dunia melalui besarnya skala perusahaan. 
           Dalam operasionalisasi blitzscaling, perilaku perusahaan teknologi dengan memberikan diskon, promo dan cashback menjadi sebuah hal yang relevan. Perusahaan teknologi melalui perilaku ekonomi tersebut akan mendapatkan pertumbuhan pendapatan dan pertumbuhan basis pelanggan. Bila pertumbuhan di dua dimensi tersebut terus berkembang, perusahaan teknologi berusaha melakukan pertumbuhan organisasi. Dalam sebuah persaingan dengan perusahaan lain, perusahaan teknologi dengan pertumbuhan pendapatan, basis pelanggan dan organisasi perusahaan akan menjadi pemenang karena memiliki skala perusahaan besar dengan keuntungan didapat setelah menang dalam persaingan.
            Namun, upaya perusahaan teknologi memenangkan persaingan melalui pemberian diskon, promo dan cashback dalam realitanya sulit untuk diwujudkan karena adanya hambatan dalam strategi blitzscaling. Hambatan pertama berupa pasar yang semakin terkontestasi sehingga margin tidak secara konsisten meningkat walaupun penjualan meningkat secara pesat. Salah satu contoh adalah Uber yang bernilai 100 Miliar Dollars tetap mendapatkan kontestasi dari pesaingnya dibidang transportasi. Hambatan kedua berupa pelanggan atau konsumen perusahaan teknologi yang kacau. Walaupun perusahaan teknologi telah memberikan subsidi, tidak ada tanda bahwa pelanggan akan setia pada pemberi subsidi tersebut. Hambatan ketiga berupa faktor eksternal seperti regulasi pemerintah dan pajak. Faktor eksternal ini membuat perusahaan teknologi tidak dapat bergerak bebas karena harus memenuhi regulasi yang ada dan mengurangi pendapatkan akibat membayar pajak.  

Fenomena di Indonesia
          Fenomena blitzscaling yang memberikan dampak langsung kepada konsumen adalah persaingan perusahan teknologi tranportasi GOJEK dan Grab. Kedua perusahaan tersebut sangat aktif dalam memberikan diskon, promo dan cashback pada setiap produknya. Selain perusahaan teknologi pada sektor transportasi, persaingan terasa pada perusahaan teknologi di sektor e-commerce seperti Shopee, Bukalapak, Tokopedia dan Lazada yang aktif dalam memberikan diskon dan gratis ongkos kirim pada pelanggannya. Dalam konteks ini, perusahaan teknologi tersebut berupaya meningkatkan pendapatan dan basis pelanggannya agar perusahaannya mengalami pertumbuhan.
            Permasalahan utama dalam melihat perusahaan teknologi di Indonesia berupa kurangnya informasi mengenai pendapatan, pengeluaran dan laba perusahaan. Dampak permasalahan tersebut berupa sulitnya menganalisis perkembangan perusahaan teknologi di Indonesia. pada konteks ini, pemerintah Indonesia tidak secara khusus mengeluarkan regulasi yang mewajibakan perusahaan teknologi memberikan penjelasan kondisi keuangannya.
               Dalam pengawasan praktik blitzscaling di Indonesia, ada perselisihan antar lembaga negara. Kementrian Perhubungan (Kemenhub) diawal Juni 2019 ingin mengeluarkan larangan perusahaan transportasi online atau perusahaan teknologi di sektor transportasi untuk memberikan diskon atau promo. Pada akhirnya Kemenhub membatalkan niat untuk mengeluarkan peraturan tersebut. Pada dasarnya, Kemenhub tidak memiliki wewenang untuk mengatur ranah pemberian diskon atau promo karena wewenang tersebut dimiliki oleh Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU).

Penutup
            Perusahaan teknologi perlu memikirkan kembali strategi mereka untuk mendapatkan keuntungan besar. Analisis The Economist menunjukkan saat ini perusahaan teknologi tidak memiliki jalur untuk mendapatkan keuntungan besar karena strategi blitzscaling dengan mengeluarkan uang subsidi untuk pertumbuhan pendapatan. Strategi ini dipertanyakan karena hambatan kontestasi pasar yang ketat, pelanggan yang tidak setia serta regulasi dan pajak pemerintah.
            Di Indonesia, peran pemerintah diperlukan untuk lebih aktif mengawasi persaingan antar perusahaan teknologi. Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) sebagai lembaga negara yang memiliki wewenang idealnya lebih aktif mengawasi praktif ini sebagai tindakan preventif mencegah monopoli yang dilakukan perusahaan teknologi.


Sumber :
Ulfa Arieza, Persaingan Usaha dan Tarik Ulur Aturan Tarif Ojek Online, 13 Juni 2019, diakses melalui https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20190613122548-92-402976/persaingan-usaha-dan-tarik-ulur-aturan-tarif-ojek-online pada tanggal 15 Juni 2019.

The Economist, The Trouble with Tech Unicorn, Edisi 20-26 April 2019.

Tim Sullivan, Blitzscaling, 2016, diakses melalui https://hbr.org/2016/04/blitzscaling pada tanggal 15 Juni 2019.

Sumber Gambar :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rekomendasi Lagu The Beatles di luar arus utama, Part 1

                    Baru memulai mendengarkan the Beatles? Hal tersebut merupakan suatu hal yang wajar karena grup band ini berdiri pada tahun 1960 dan bubar di tahun 1970. Dapat dikatakan, grup band ini lebih familiar pada generasi baby boomers dibandingkan generasi x, generasi y dan generasi z. Akan tetapi, bagi penikmat musik dimanapun berada, The Beatles merupakan grup band yang perlu didengar karena salah satunya sangat populer di masa-masa puncak penampilannya di sekitar tahun 60-an dan 70-an. Terlebih, grup band ini memiliki lagu-lagu dengan musik yang mudah didengarkan dan memiliki makna yang mendalam.             Kemudahan teknologi berdampak pada kemudahan akses mendengarkan musik. Kita memiliki pilihan untuk mendengarkan The Beatles setidaknya melalui Youtube dan Spotify. Melalui Youtube, tersedia channel Youtube The Beatles yang berisi musik video dari album-alb...

Panduan Buat Kalian yang Masih ragu Nonton Game of Thrones Ataupun yang Sudah Nonton Memutuskan Tidak Melanjutkan

Sumber Gambar : deadline.com           Akhir Mei 2019, Serial Televisi Game of Thrones telah berakhir dengan episode The Iron Throne menjadi episode terakhir. Berakhirnya episode tersebut menggenapkan delapan tahun usia Game of Thrones yang tayang pertama kali pada 17 April 2011. Adapun pada penayangan di Season 8 pada bulan April dan Mei ini, banyak kalangan dapat dikatakan hype oleh serba serbi Game of Thrones mulai membicarakan alur cerita,   protes terhadap penulis serial hingga masuknya Starbucks dalam scene di salah satu episode di season 8. Akan tetapi, tidak semua orang ikut dalam hingar bingar Game of Thrones karena banyak yang tidak mengikutinya. Contohnya, coba perhatikan teman kalian ketika kumpul membicarakan Game of Thrones biasanya mereka diam atau keluar dari kumpul tersebut.   Ada banyak sebab mengapa masih ada orang yang tidak mengikuti Game of Thrones. Salah satunya tulisan dari Akhmad Muawal Hasan yang berjudul Y...