Buat
kalian yang saat ini masih menjadi mahasiswa atau yang sudah pernah menjadi
mahasiswa, pasti pernah dengar organisasi kajian kampus. Biasanya, suatu
organisasi di kampus memiliki departemen kajian yang menjadi core keilmuan atau basis akademiknya. Agar
mudah untuk mengidentifikasinya, biasanya organisasi kampus memiliki departemen
kajian dengan nama departemen kajian, departemen penelitian, departemen kajian
dan aksi strategis serta departemen keilmuan.
Mungkin
para pembaca punya ekspektasi tinggi
ketika gabung departemen kajian dari organisasi kampus bahwa setiap
anggota depertemen kajian hanya berfokus pada membuat kajian atau memperdalam
keilmuan organisasi kampus. Ekspektasi ini, berdasarkan pengalaman penulis, memang
sesuai dengan realita yang ada seperti setiap bulannya membuat kajian dan
mengadakan diskusi. Namun, ekspektasi tersebut tidak sepenuhnya menggambarkan
kegiatan yang selalu dilakukan oleh anggota departemen kajian, yaitu membuat
produk atau acara diskusi dibaca atau didatangi banyak orang.
Upaya
untuk menarik massa agar produk atau acara diskusi dibaca atau didatangi banyak
orang memang tak ubahnya seperti strategi pemasaran. Pada dasarnya, departemen
kajian membuat produk kajian atau diskusi yang berkualitas dengan substansi isu
penting dan berdampak luas. Produk
tersebut harus dikemas untuk dipasarkan kepada konsumen departemen kajian.
Pengemasan produk terdiri dari membuat konsep publikasi seperti editing poster, video serta caption, membuat desain produk seperti template kajian hingga turun langsung ke
konsumen dengan menyebarkan hasil kajian dan undangan diskusi. Tanpa disadari,
justru kegiatan memasarkan produk departemen kajian dalam prosesnya memakan
banyak waktu.
Tulisan
ini membahas peran penting kegiatan pemasaran produk departemen kajian yang
justru menjadi signifikan perannya bersamaan dengan kualitas dari produknya.
Konteks pembahas tulisan ini menggunakan pengalaman penulis menjadi staf
Departemen Kajian Sosial dan Politik Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik FISIP UI
atau disingkat Kasospol HMIP UI.
Profil Organisasi Kajian Kampus
Penulis
menjadi staf Kasospol HMIP FISIP UI pada
kepengurusan tahun 2017. HMIP itu sendiri berada pada tingkat organisasi yang
paling kecil, yaitu tingkat jurusan. Di UI sendiri setidaknya ada tiga tingkat
organisasi atau komunitas. Pertama, tingkat universitas terdiri dari BEM UI,
Suma UI, KSM Eka Prasetnya, Paragita, Ukor Basket dan lainnya. Kedua, tingkat
fakultas khususnya di FISIP terdiri dari BEM FISIP, FISIPERS, KMF, FBC dan
lainnya. Ketiga, tingkat jurusan terdiri dari HMIP, HMIK, HMS, HMHI dan
lainnya. Perbedaan dari tiga tingkat organisasi tersebut ada pada ruang lingkup
program kerja dan mekanisme pendanaannya.
Kasospol pada tahun kepengurusan 2017 menjalankan
banyak program kerja. Diantaranya, Kasospol mengadakan diskusi bertema ilmu
politik bulanan (Sersan Satu), mengadakan seminar nasional (Dinasti),
menyelenggarakan bedah skripsi (Diskursus), menyediakan wadah publikasi karya
mahasiswa ilmu politik bulanan (Kasospol Update), menyatakan pandangan pada
sebuah isu, membuat Kajian bulanan dan membuat bunga rampai. Secara kuantitas, Kasospol
di tahun 2017 produktif dalam berkarya terutama hanya disokong oleh empat staf
dan dua BPH Umum. Jumlah tersebut secara jumlah personel setengah dari
rata-rata departemen kajian di Badan Eksekutif Mahasiswa yang berjumlah delapan
staf dan dua BPH umum.
Program kerja Kasospol tahun kepengurusan 2017
dapat diakses melalui website HMIP FISIP
UI di https://hmip.fisip.ui.ac.id dengan label Kasospol dan tahun publikasi 2017. Tidak
semua program kerja Kasospol di tahun 2017 dipublikasi melalu website karena ada permasalahan di website dan Humas tidak upload semua program Kasospol yang ada. Namun, program kerja Kasospol tahun
kepengurusan 2017 dapat diakses dengan scrolling
melalui Line HMIP FISIP UI di http://line.me/ti/p/%40odv2226c atau Instagram HMIP FISIP UI dengan tanggal publikasi
2017.
Tidak sepenuhnya mengkaji dan
mengadakan diskusi
Banyaknya jumlah produk kajian dan
mengadakan diskusi dari Kasospol merupakan salah satu indikator dalam menilai
keberhasilan departemen kajian. Namun, produktivitas tersebut seakan sia-sia
bila produk yang dihasilkan tidak dikonsumsi oleh konsumen. Dalam konteks ini,
maksud produk yang tidak dikonsumsi oleh konsumen berupa sedikitnya jumlah
massa membaca kajian atau sedikitnya jumlah massa yang hadir dalam sebuah
diskusi. Permasalahan tersebut mungkin dirasakan oleh departemen kajian kampus
lainnya.
Muncul urgensi untuk memasarkan
kembali produk kajian agar lebih banyak massa yang mengkonsumsinya. Salah satu
caranya adalah mengemas kembali cara penyampaian produk kajian disesuaikan
dengan kondisi pasar. Kasospol sendiri target utamanya adalah mahasiswa jurusan
ilmu politik dan secara bersamaan mahasiswa FISIP.
Kondisi
pasar yang ada dapat dibagi menjadi tiga, yaitu mahasiswa yang pada dasarnya
berminat dengan produk departemen kajian, mahasiswa yang netral dan mahasiswa
yang tidak berminat sama sekali dengan produk departemen kajian. Pada mahasiswa
yang pada dasarnya berminat dengan produk departemen kajian, mereka memiliki
inisiatif untuk melihat produk di media sosial atau hadir dalam diskusi atas
kemauan sendiri. Namun, mahasiswa dengan tipe tersebut sedikit jumlahnya. Pada
mahasiswa netral, mereka memiliki karakteristik swing untuk ikut mengkonsumi atau tidak mengkonsumsi produk departemen
kajian. Pasar ini menjadi fokus pemasaran karena sifat mahasiswanya yang dapat
diarahkan. Terakhir, mahasiswa yang tidak berminat sama sekali dengan produk departemen
kajian menjadi pasar yang sulit untuk diharapkan karena karakteristik mereka
yang pada dasarnya tidak mau mengkonsumsi produk departemen kajian. Banyak
alasan dari pasar ini diantara ingin santai setelah belajar di kelas, memiliki
kegemaran di luar kelas yang lain, lebih suka nongkrong di kantin dan lainnya.
Melihat
kondisi pasar seperti itu, Kasospol mencoba memasarkan produk kajian pada ketiga
kondisi pasar yang ada. Penulis sendiri menekankan pentingnya peran Kordinator
Bidang atau Koorbid, Kepala Departemen atau Kadep dan Wakil Kepala Departemen
atau Wakadep dengan kapabilitas strategi pemasaran dan profilnya memberikan
saran dan dalam situasi tertentu turun langsung untuk membantu persoalan di
lapangan. Dalam melakukan pemasaran, Koorbid selalu memberikan gambaran pasar
yang ingin dituju dan memberikan perhitungan langkah-langkah yang harus
diambil. Tujuannya jelas agar semua tindakan yang diambil efektif dan efisien
menjangkau konsumen atau konstituen Kasospol.
Sementara
itu, Kadep dan Wakadep memberikan bentuk konkret pemasaran produk kajian dengan
berbagai cara. Semisal hasil kajian sudah dipublikasi melalui media sosial
organisasi, cara umum yang dilakukan berupa like
and share publikasi ke berbagai grup di sosial media. Namun, Kasospol
melakukan cara berbeda dengan print out hasil
kajian atau tulisan dan disebarkan di kantin pada saat jam jeda kelas.
Harapannya, tiga pasar mahasiswa yang ada dapat membaca saat menunggu makanan
atau jadi bahan obrolan selagi makan.
Dalam
detail kajian, upaya pemasaran dilakukan dengan redesain template kajian yang awalnya kaku seperti template skripsi menjadi sederhana dan enak dibaca seperti majalah.
Secara publikasi, kajian diupayakan menyerdehanakan narasi dengan hal-hal yang
dekat dengan kehidupan seperti permasalahan partisipasi warga kota dengan
keresahan Squiward dalam SpongeBob SquarePants yang tinggal di Squidville.
Selain itu, poster dan video publikasi didesain semenarik mungkin.
Terakhir,
strategi pemasaran dilakukan dengan mendatangi langsung konsumen saat mengadakan diskusi. Poster publikasi diskusi di-print out untuk dijadikan flyer atau selebaran dan dibagikan
secara langsung dengan mendatangai setiap tongkrongan jurusan yang ada di
FISIP.
Tanpa
disadari, upaya-upaya pemasaran produk menjadi satu pilar yang menyokong
keberlangsungan dari departemen kajian . Banyak waktu yang harus dikeluarkan
untuk pemasaran selain membuat kajian dan mengadakan diskusi.
Melalui
pendekatan pemasaran, sebuah departemen kajian dapat dipertanyakan mengenai relevansi
kehadirannya. Indikator utama relevansinya berupa apakah pasar yang dituju
masih membutuhkan produk-produk kajian. Pertanyaan tersebut sebenarnya mecoba
memperlihatkan permasalahan semakin sepinya peminat produk kajian. Ada perubahan
mahasiswa cenderung menyukai kegiatan olahraga dan seni dibandingkan mengkaji
berbagai fenomena keilmuan. Oleh karena itu, perubahan pasar perlu direspon
dengan perubahan produk.
Di
sisi lain, pendekatan pemasaran departemen kajian memiliki kritik, yaitu departemen kajian kampus tidak bisa dilihat semata-mata seperti perusahaan
yang menjual produknya. Ada faktor lainnya yang membuat departemen kajian sangat relevan. Pertama, organisasi ini
menjadi wadah bagi mahasiswa yang tertarik dalam mengkaji sebuah keilmuan untuk
mengembangkan kemampuannya. Dengan kata lain, hadirnya departemen kajian sebagai wadah pengembangan diri jauh lebih
baik dibandingkan tidak ada sama sekali. Kedua, setiap organisasi membutuhkan
departemen kajian sebagai basis akademik organisasi. Hal tersebut penting untuk
keberlanjutan organisasi itu sendiri. Terakhir, sebagai organisasi non profit,
lembaga kajian kampus hanya berfokus pada
pengembangan wilayah keilmuannya dan tidak berusaha memonetisasi semua produk
yang dihasilkannya.
Contoh upaya pemasaran produk
Di bagian ini, penulis ingin memperlihatkan
dua poster dan satu video publikasi dari Kasospol yang dibuat oleh penulis
sendiri. Penulis juga menjelaskan
konteks dari masing-masing desain publikasi yang ada.
Poster publikasi diatas dibuat untuk tulisan Rakha
Andinayaka Indra yang berjudul Kenali
Persekusi : Ancaman yang Menggerogoti Demokrasi Negeri. Pembaca dapat
mengakses tulisan tersebut melalui link
ini https://hmip.fisip.ui.ac.id/kenali-persekusi-ancaman-yang-menggerogoti-demokrasi-negeri/
. Desain publikasi diatas berusaha menyederhanakan tulisan Rakha mengenai
dampak persekusi dengan menyimbolkan sebuah gadget
mengeluarkan tangan yang mengancam pemilikinya.
Poster publikasi
diatas dibuat untuk tulisan Rendra Saputra yang berjudul Learn to Redefining Islam and Democracy from Maiyah Comunity. Pembaca
dapat mengakses publikasi melalui https://deskgram.net/p/1608494144513454953_1145499069 dan mengakses isi tulisannya
melalui https://drive.google.com/file/d/0B9_jSBA-j1GcRm9LYU1ReTFlZ2s/view . Poster publikasi tersebut merupakan ringkasan utama dari
gambaran komunitas Maiyah yang ada dalam tulisan rendra. Kutipan dari Cak Nun,
beruntungnya, menjadi pokok pikiran yang menjelaskan relasi kekuasaan di dalam
komunitas Maiyah.
Video publikasi
diatas dibuat penulis dalam publikasi
Bunga Rampai Kasospol. Pembaca dapat mengakses publikasi Bunga Rampai Kasospol
melalui https://www.instagram.com/p/BdSbWPKB5uj/?utm_source=ig_web_copy_link dan mengakses Bunga Rampai
melalui bit.ly/BungaRampai2017 . Video publikasi tersebut dibuat dengan tujuan
memperlihatkan cover Bunga Rampai. Harapannya,
publikasi tersebut dapat membuat banyak orang tertarik untuk membaca Bunga
Rampai.
Pada awalnya, penulis tidak berniat membuat video
publikasi. Sama seperti sebelumnya, penulis hanya membuat poster publikasi. Berikut
poster publikasi yang telah dibuat.
Poster diatas
dibuat penulis setelah menonton banyak review
pop culture streetwear. Pengaruh tersebut dapat dilihat dari tulisan dan
gambar seperti supreme dan background seperti desain jaket Louis Vuitton. Pada akhirnya, penulis
lebih memilih video publikasi dibanding poster tersebut karena gambar bergerak
lebih menarik dilihat dibanding poster.
Penutup
Departemen kajian yang ada dalam
organisasi kampus pada dasarnya tidak hanya bekerja dengan mengkaji sebuah
fenomena atau mengadakan diskusi. Departemen kajian dituntut lebih untuk
memasarkan produk yang dihasilkan kepada konsumennya. Dalam konteks ini,
Departemen melakukan berbagai cara seperti publikasi yang menarik, redesain
produk kajian sampai jemput bola konsumen.
Departemen kajian sosial dan politik
HMIP FISIP UI melakukan upaya pemasaran kepada konsumennya, yaitu mahasiswa
ilmu politik dan secara bersamaan mahasiswa FISIP UI. Upaya tersebut dilakukan
dengan membuat ulang konsep publikasi seperti editing poster, video serta caption,
membuat desain produk seperti template
kajian hingga turun langsung ke konsumen dengan menyebarkan hasil kajian
dan undangan diskusi. Pada akhirnya, upaya pemasaran ini menjadi kegiatan
penting untuk departemen kajian selain mengkaji dan mengadakan diskusi.




Komentar
Posting Komentar