Konteks
awal
Mikel
Arteta sebagai pengganti Unai Emery berhasil membawa sistem baru ke dalam
permainan Arsenal. Salah satu cirinya adalah menerapkan high pressing dalam
defense mereka. Hasilnya mereka berhasil meraih 10 clean sheet dari 27
pertandingan di bawah Arteta serta meraih 15 kemenangan dan 6 hasil seri.
Raihan positif ini masih bisa ditingkatkan lagi terutama dari sisi pertahanan
karena ada enam pertandingan Arsenal dalam posisi unggul menjadi seri atau
kalah.
Pertahanan
Arsenal memang menjadi sorotan setelah beberapa pemainnya melakukan blunder
yang menyebabkan kemasukan gol. David Luiz melakukan blunder dengan gagal
melakukan clearance dan menyebabkan
penalti di pertandingan melawan Manchester City dan membuat penalti pada
pertandingan melawan Chelsea dan Watford. Namun, David Luiz masih menjadi
pilihan utama Arteta dengan 24 kali bermain dari total 27 pertandingan. Selain
Luiz, Sead Kolasinac juga melakukan blunder ketika melakukan clearance kotor melawan Sheffield United
di FA CUP dan salah pasing saat melawan Tottenham. Kolasinac
bermain 15 dari 27 pertandingan serta beberapa kali Arteta lebih memilih Bukayo
Saka menjadi full beck kiri dan memilih Tierney menjadi bek kiri dibanding Kolasinac.
Sementara itu, skema permainan Arteta membuat Granit Xhaka menjadi pemain
penting dengan bermain 25 dari 27 pertandingan. Hanya cedera yang membuatnya
tidak dapat bermain. Dapat dikatakan, Xhaka pemain yang tidak membuat blunder
seperti Luiz dan Kolasinac serta memiliki penampilan paling konsisten dalam
pertahanan.
Tulisan
ini membandingkan statistik Luiz dan Kolasinac sebagai pemain Arsenal yang
membuat blunder dibandingkan dengan Xhaka sebagai pemain yang paling stabil
untuk membantu pertahanan. Statistik ketiga pemain tersebut akan dibandingkan
untuk melihat dampak penampilan mereka per menitnya terhadap jumlah kemasukan
gol yang dialami oleh Arsenal. Selain itu, tulisan ini memuat konteks kemasukan
gol Arsenal secara kualitatif atau penjelasan di luar menggunakan data
statistik.
Data
statistik
Statistik yang digunakan dalam tulisan ini berupa jumlah
menit per pertandingan dan jumlah kemasukan saat bermain dari Luiz, Kolasinac
dan Xhaka. Berikut merupakan tabel yang memuat data statistik tersebut.
No
|
Lawan Arsenal
|
Menit Bermain Kolasinac
|
Jumlah Kemasukan Gol saat Kolasinac
bermain
|
Menit Bermain Xhaka
|
Jumlah Kemasukan Gol saat Xhaka
bermain
|
Menit Bermain Luiz
|
Jumlah Kemasukan Gol saat Luiz bermain
|
Skor Akhir
|
1
|
Bournemouth (Tandang) EPL
|
90
|
1
|
90
|
1
|
1-1
|
||
2
|
Chelsea (Kandang) EPL
|
90
|
2
|
1-2
|
||||
3
|
MU (Kandang)
|
69
|
0
|
90
|
0
|
90
|
0
|
2-0
|
4
|
Leeds United (Kandang) FA
|
90
|
0
|
90
|
0
|
90
|
0
|
1-0
|
5
|
Crystal Palace (Tandang) EPL
|
90
|
1
|
90
|
1
|
90
|
1
|
1-1
|
6
|
Sheffield United (Kandang) EPL
|
90
|
1
|
90
|
1
|
1-1
|
||
7
|
Chelsea (Tandang) EPL
|
90
|
2
|
26
|
1*
|
2-2
|
||
8
|
Bournemouth (Tandang) FA
|
90
|
1
|
2-1
|
||||
9
|
Burnley (Tandang) EPL
|
90
|
0
|
90
|
0
|
0-0
|
||
10
|
Newcastle (Kandang) EPL
|
90
|
0
|
90
|
0
|
4-0
|
||
11
|
Olympiacos (Tandang) UEL
|
90
|
0
|
90
|
0
|
1-0
|
||
12
|
Everton (Kandang) EPL
|
19
|
1
|
90
|
2
|
90
|
2
|
3-2
|
13
|
Olympiacos (Kandang) UEL
|
120
|
2
|
120
|
2
|
1-2
|
||
14
|
Porstmouth (Tandang) FA
|
3
|
0
|
90
|
0
|
2-0
|
||
15
|
West Ham (Kandang) EPL
|
90
|
0
|
90
|
0
|
1-0
|
||
16
|
M. City (Tandang) EPL
|
7
|
0
|
25
|
2*
|
0-3
|
||
17
|
Brighton (Tandang) EPL
|
90
|
2
|
1-2
|
||||
18
|
Southampton (Tandang) EPL
|
19
|
0
|
90
|
0
|
2-0
|
||
19
|
Sheffield United (Tandang) FA
|
90
|
1
|
90
|
1
|
54
|
0
|
2-1
|
20
|
Norwich City (Kandang) EPL
|
90
|
0
|
90
|
0
|
90
|
0
|
4-0
|
21
|
Leicester (Kandang) EPL
|
90
|
1
|
90
|
1
|
90
|
1
|
1-1
|
22
|
Tottenham (Tandang) EPL
|
84
|
2
|
90
|
2
|
90
|
2
|
1-2
|
23
|
Liverpool (Kandang) EPL
|
5
|
0
|
90
|
1
|
90
|
1
|
2-1
|
24
|
Manchester City (Netral) FA
|
2
|
0
|
90
|
0
|
90
|
0
|
2-0
|
25
|
Aston Villa (Tandang) EPL
|
90
|
1
|
44
|
0
|
60
|
1
|
0-1
|
26
|
Watford (Kandang) EPL
|
33
|
1
|
90
|
2
|
90
|
2
|
3-2
|
27
|
Chelsea (Netral) FA
|
1
|
0
|
90
|
1
|
88
|
1
|
2-1
|
*Data statistik di atas
mengkategorikan pelanggaran kartu merah David Luiz yang menyebabkan penalti
sebagai kemasukan gol
Data kemasukan gol
berarti selama diatas lapangan pemain mengalami kemasukan gol atau tidak
kemasukan gol. Oleh karena itu pemain yang datang dari pergantian pemain
walaupun bermain selama satu menit dan tidak kemasukan gol maka dikategorikan clean sheet.
Keterangan
Tabel
Tidak
Bermain Sama Sekali atau Arsenal Seri
|
|
Bermain
Dari Bangku Cadangan
|
|
Bermain
Sebagai Starter atau Arsenal Menang
|
|
Arsenal
Kalah
|
Tabel data statistik di atas mengindikasikan beberapa performa
permain dalam permainan Arsenal di bawah Arteta. Pertama, ketiga pemain
tersebut pada dasarnya memiliki penampilan yang baik dari segi jumlah
penampilan dengan kemasukan gol. Kolasinac bermain sebanyak 15 pertandingan
dengan catatan 7 pertandingan clean sheet
dan 8 pertandingan kemasukan gol. Xhaka bermain 25 pertandingan dengan
catatan 12 pertandingan clean sheet dan
13 pertandingan kemasukan gol. Luiz bermain 24 pertandingan dengan 10
pertandingan clean sheet dan 14
pertandingan kemasukan gol. Dari statistik tersebut, Kolasinac, Luiz dan Xhaka
dapat dikatakan bukan pemain dengan performa terburuk dan juga bukan pemain
dengan performa terbaik. Walaupun dengan catatan, Kolasinac hanya menjadi
pemain dengan jumlah penampilan setengah dari pemain lain.
Kedua, data statistik penampilan dari pemain yang
bermain dari starting line up menujukkan
perbedaan antara Kolasinac dengan Luiz dan Xhaka. Kolasinac 10 kali bermain
sebagai starting line up dengan
mengalami kemasukan gol sebanyak 7 pertandingan dan clean sheet sebanyak 3 pertandingan. Luiz 23 kali bermain sebagai starting line up dengan mengalami
kemasukan gol sebanyak 13 pertandingan dan clean
sheet sebanyak 10 pertandingan. Sama seperti Luiz, Xhaka 23 kali bermain sebagai starting line up dengan mengalami
kemasukan gol sebanyak 13 pertandingan dan clean
sheet sebanyak 10 pertandingan. Dari data statistik tersebut, Kolasinac
mengalami lebih banyak pertandingan dengan kemasukan gol sebanyak 70% dari
total pertandingan serta Luiz dan Xhaka mengalami lebih sedikit pertandingan
dengan kemasukan gol sebanyak 56,5% dari total pertandingan dengan catatan
pertandingan yang lebih banyak dari Kolasinac.
Ketiga,
data statistik jumlah menit bermain dengan jumlah kemasukan gol menunjukkan
kehadiran Luiz paling sedikit mengalami kemasukan gol dibanding Xhaka dan
Kolasinac. Luiz kemasukan 17 gol dari total 1993 menit bermain dengan 117,2
menit per gol. Xhaka kemasukan 18 gol dari 2064 menit bermain dengan 114,6
menit per gol. Kolasinac kemasukan 10 gol dari 862 menit bermain dengan 86,2
menit per gol. Dari hasil statistik tersebut, Kolasinac menjadi pemain dengan
tingkat kemasukan gol tertinggi dibandingkan Luiz dan Xhaka.
Lebih
dari Sekadar Statistik
Statistik tidak dapat mengukur aktivitas pemain dalam
sebuah pertandingan sepak bola secara keseluruhan. Ada unsur-unsur yang tidak
dapat diceritakan melalui angka tetapi dapat digambarkan melalui pendekatan
kualitatif. Selain itu, sebuah kesalahan dari pemain merupakan sebuah hal yang
lumrah dan oleh karena itu sebuah tim perlu untuk meminimilasi kesalahan yang
dibuat oleh pemainnya. Dalam konteks ini, kesalahan yang dilakukan oleh
Kolasinac dan Luiz merupakan sebuah hal lumrah. Walaupun begitu, sangat penting
untuk mengukur banyak kesalahan dari pemain sebagai sebuah evaluasi. Bagian ini
berusaha menjelaskan ketiga pemain tersebut diluar dari pendekatan statistik.
Kolasinac menjadi pemain dengan tingkat kemasukan gol
tertinggi dengan 86,2 gol per menit dan kemasukan gol sebanyak 70% ketika
bermain sebagai starting line up. Kesalahan
Kolasinac yang paling terlihat adalah kesalahan passing saat melawan Tottenham. Setealah melihat kemasukan gol
Kolasinac terutama saat bermain dari starting
line up, 5 dari 10 pertandingan yang kemasukan gol dapat dikategorikan
sebagai kesalahan Kolasinac. Kesalahan mayor diperlihatkan dari kegagalan clearence bersih di kotak penalti saat
melawan Sheffield United di FA Cup dan salah passing melawan Tottenham. Kesalahan minor diperlihatkan saat gagal
menutup crossing yang menyebabkan gol
saat melawan Crystal Palace, tertarik oleh pemain Everton dan gagal menutup
wilayah defense-nya pada saat melawan Everton dan gagal
menutup crossing di daerah defence-nya saat melawan Leicester City.
Di sisi lain, Arsenal beruntung memiliki Kieran Tierney yang memiliki kemampuan
positioning dan clearance dalam menjaga area defence
walaupun tidak memiliki keunggulan aerial
defence seperti Kolasinac. Oleh karena itu, Arteta cenderung menempatkan
Tierney sebagai bek kiri dibandingkan Kolasinac terutama untuk menghindari kesalahan
minor dan juga kesalahan mayor yang dia lakukan.
Sementara itu, Luiz memiliki catatan impresif tingkat
kemasukan gol 117,2 menit per gol dan 56,6 persen kemasukan gol ketika bermain
sebagai starting line up. Hal ini
merupakan kontradiksi karena Luiz dikenal dengan blundernya dan bahkan dikenal
dengan rekor pelanggaran yang berujung penalti. Berdasarkan analisis 17 gol
kemasukan dari total 1993 menit bermain, hanya ada dua gol yang memang murni
kesalahan dia, yaitu kegagalan clearence dan
dilewati oleh Raheem Sterling saat melawan Manchester City. Total 15 goal
lainnya merupakan kesalahan dilakukan oleh pemain Arsenal lainnya. Luiz
melakukan pelanggaran yang menyebabkan penalti melawan Chelsea yang pada
dasarnya merupakan recovery kesalahan
passing Skhodran Mustafi dan
pelanggaran melawan Watford yang merupakan recovery
dari kesalahan passing Rob
Holding. Kemasukan gol lainnya pada dasarnya merupakan kesalahan pemain lain
yang memberikan ruang bebas untuk crossing
dan tidak menutup defence area dengan sempurna. Oleh
karena itu, keputusan Arteta untuk memperpanjang kontrak Luiz dan terus memainkannya
sebagai starting line up merupakan
sebuah keputusan yang didasarkan pada performa pemain.
Xhaka merupakan pemain dengan tingkat kemasukan gol 114,6
menit per gol dan 56,6 persen kemasukan gol ketika bermain sebagai starting line up. Di bawah skema Arteta,
Xhaka menjadi pemain yang tak tergantikan karena menjadi satu-satunya pemain
yang bisa bertahan dan mengalirkan bola dari lini pertahanan ke lini serangan.
Lucas Torreira yang memiliki posisi yang sama dengan Xhaka masih belum
mengalirkan bola dan bertahan sebaik Xhaka. Terlebih, dalam pertandingan
melawan Crytal Palace, Torreira kalah adu fisik saat menjaga Jordan Ayew.
Sementara itu, Matteo Guendouzi mampu mengalirkan bola dengan baik namun
memiliki performa bertahan yang kurang konsisten dan memiliki masalah dengan
perilakunya. Oleh karena itu, Xhaka menjadi pemain yang tidak tergantikan di
bawah Arteta.
Kesimpulan
Luiz dan Xhaka menjadi pemain penting di bawah skema
Arteta karena memiliki performa bertahan yang baik. Luiz memiliki catatan
impresif tingkat kemasukan gol 117,2 menit per gol dan 56,6 persen kemasukan
gol ketika bermain sebagai starting line
up. Luiz pun hanya membuat kesalahan pada 2 gol dari 17 gol kemasukan pada
saat melawan Manchester City dan dapat dikatakan menjadi hari buruknya dia. Sementara
itu, Xhaka merupakan pemain dengan tingkat kemasukan gol 114,6 menit per gol
dan 56,6 persen kemasukan gol ketika bermain sebagai starting line up. Xhaka sendiri menjadi pemain yang tidak
tergantikan karena penggantinya tidak memiliki performa sebaik dirinya.
Di sisi lain, Kolasinac menjadi pemain yang memiliki
menit bermain terbatas di bawah Arteta karena performanya di bawah standar. Kolasinac
menjadi pemain dengan tingkat kemasukan gol tertinggi dengan 86,2 gol per menit
dan kemasukan gol sebanyak 70% ketika bermain sebagai starting line up. Selain itu, 5 dari 10 gol kemasukan saat bermain dari
starting line up dapat dikategorikan
sebagai kesalahan Kolasinac. Selain itu, Kolasinac juga menjadi pemain yang
kurang kreatif dalam membantu serangan karena dikenal sering melakukan back pass ke belakang diabndingkan passing ke depan.
Tulisan ini pada dasarnya memiliki kelemahan, yaitu hanya
membandingkan pemain yang konsisten bertahan dengan pemain yang tidak konsisten
dalam bertahan. Idealnya, analisis seperti ini perlu melihat performa seluruh
pemain. Walupun begitu, tulisan ini sudah cukup memperlihatkan keputusan Arteta
yang memainkan Luiz secara reguler dan keputusan tidak memainkan Kolasinac.
Daftar Referensi
Data tabel data statistik
tulisan ini diolah dari detail pertandingan Google. Caranya dengan mengetik
Arsenal dan akan muncul jadwal dan hasil pertandingan Arsenal.
Analisis kemasukan gol
Arsenal dilihat melalui Youtube. Highlight bersumber dari akun Youtube Arsenal
dan lawan yang dihadapinya.

Komentar
Posting Komentar